Cara Membuat Laporan Kuliah Lapangan / Observasi

Ini adalah contoh laporan kuliah Lapangan:

Laporan Hasil Kuliah Lapangan

1. Nama Kegiatan

Penelitian Tumbuhan Di Kebun Raya Bogor

2. Waktu Kegiatan

Tanggal 23 Maret 2006

3. Tujuan Kegiatan

Untuk Mengetahui Keanekaragaman Tumbuhan

4. Cara Yang Digunakan

Mengamati tumbuhan yang berada di kawasan Kebun Raya Bogor

5. Hasil Yang Diperoleh

Dari hasil penelitian yang dilakukan, kami menemukan beberapa jenis tanaman yang diantaranya :

A. SUKU RUBIACEAE

Habitus Pohon, semak atau jarang perdu, kadang-kadang memanjat dengan daun tunggal, berhadapan atau berlingkar (verticilatus) kebanyakan rata dengan stipula interpetioler yang sering bersatu dan sebesar daun sehinga daun-daun tampak berlingkar. Daun penumpu terlatak antara tangkai daun, berlekatan berpasangan, kadang-kadang terbagi dalam beberapa taju. Bunga di ketiak atau terminal, kadang-kadang tunggal, kebanyakan Bisexualis, actiomorphus, jarang sediki zigomorphus. Benang sari sama banyak dengan taju mahkota dan berseling dengannya, tertancap pada tabung atau leher mahkota. Kepala sari beruang. Calyx 4 hinga 5 sepal, biasanya berbentuk tabung berfungsi dengan ovarium dengan (0) 4 hinga 5 cangap. Corolla: 4 hingga 5 (10) petal bersatu lebih atau kurang berbentuk tabung (tubus, limbus dan faux) epigynous, jumlah cangkap berkisar dari 4 hinga 10. Bakal buah seluruhnya atau sebagian tenggelam, beruang sampai banyak, tangkai putik satu. Buah bermacam-macam ; buah kotak, buah huni, buah batu atau pecah dama kendaga. Biji satu dalam satu ruang.

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Rubiacease

Pasoq verra latifolia (lamk)

-

Pohon

Utama

Berkayu

Bangun langset

Runcing

Rata

Menyirip

B. SUKU CAESALPINIACEAE

Habitus Pohon, semak atau jarang herba. Daun majemuk menyurip atau menyirip rangkap, jarang tunggal atau foliolatus letak tersebar atau bergantian umumnya tidak ada stipula. Karangan Bunga Racemus, spuca, paniculum atau corymbus. Bunga bisaeksualis, zigomirf, calyx 4-5 sepal, lepas atau 2 diatasnya kadang-kadang bersatu. Corolla 5 sepal atau kurang atau tidak dalam lepas tidak sama besarnya, petal yang lebih atas di dalam dua petal lateral. Buah legume, sering bersayap. Polongan membuka dan ada juga yang tidak membuka, biji satu butir sampai banyak biji.

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

1.

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Caesalpiniaceae

Hymenaea Courbaril

Amerika

Pohon

Utama

Berkayu

Jorong

Meruncing

Rata

Menyirip

2

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Caesalphiniadeae

Sindora siamensis Teijism

Venezuela

Pohon

Utama

Berkayu

Oval

Melengkung

Merata

Menyirip

C. SUKU FABACEAE

Habitus pohon, semak atau perdu. Daun majemuk, paripinnatus atau imparipinnatus, trifoliolatus atau unifoliatus. Bunga tunggal atau dalam karangan bunga racemes, panicula atau umbella; bisexualis, zigomorphus. Calyx 5 sepal, corolla 5 berbentuk kupu-kupu dengan 1 petal standar yang dusebut tanda bunga/panji (vexilum), 2 petal sayap lateral (ala), 2 petal lunas (carian)yang ebih atau kurang berfusi dengan tepi bawahnya menjadi satu lunas. Andresium 10 stamen, minadelphus atau diadeiphus. Ginesium satu pistilum sederhana dari 1 carpelum, 1 ioculus, plasentasi marginalis, ovarium superium. Buah biasanya polong-polong (legumen). Biji biasanya dengan cadang makanan dalam kotiledon.

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

1.

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Fabaceae

Brownea capiteila jaeq

Venezuela

Pohon

Utama

Berkayu

Ovatus

Meruncing

Rata

Menyirip

2.

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Fabaceae

Sindora brgmanii

Sumatera

Pohon

Utama

Berkayu

-

Meruncing

Merata

-

3.

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Fabaceae

Bauhinia variegate

India

Pohon

Utama

Berkayu

Bulat

Melekuk (rekusus)

Rata

-

4.

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Fabaceae

Brownea grandiceps jeg

Venezuela

Pohon

Utama

Berkayu

Ovalus

Meruncing

Rata

-

D. SUKU ARECACEAE (PALMAE)

Habitus tumbuhan, pohon atau semak, kadang-kadang memanjat, batang kokoh hingga lampai, pendek hingga. Tingginya mencapai 30 meter, pohon biasanya tidak bercabang. Daun helai palmatus, pinatus atau sederhama, sering sangat besar, selubung petiulus atau pelepah pada basalnya daun-daun biasanya mengelompok pada terminal. Bunga unisexualis atau bisexsualis, actinomorphus, calyx keci, terpisah atau bersatu, Corola 3 petal, kecil terpisah atau bersatuAndrroecium : biasanya 6 stamen dalam 2 deret. Gynoecium : biasanya 1 pistillum majemuk yang mempunyai 3 carpellum bersatu dengan 1hingga oculus, ovulum tungal, ovarium superium, rudimeter daam bunga stamina. Buah bacca atau drupa, exocarpium berdaging atau berkulit.

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

1.

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Arecaceae

Baciris guineensis

-

Pohon

Serabut

Memanjang dan lanceolatus

Meruncing

Berduri

Rata

Sejajar

2

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Areaceae

Encephalartos laurenlianus

-

Pohon

Serabut

Lanceolatus

Meruncing

Berduri

Rata

Sejajar

3

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Arecaceae

Latania lontaroides

-

Semak

-

-

Menjari

Meruncing

-

Menyirip

4

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun


Arecaceae

Satakenlia rukieuensis

-

Semak

-

-

Memanjang

Meruncing

-

Sejajar

5

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun


Arecaceae

Pinanga insignis

Pilipina

Pohon

-

-

Memanjang

Meruncing

-

Sejajar

6

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun


Arecaceae

Bathis gasipaes

USA

Pohon

-

-

Memanjang

Meruncing

-

Sejajar

7

Suku

Nama Spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan Daun


Arecaceae

Areca cathecu

Maluku

Pohon

-

-

Lanceolum

-

Rata

Sejajar

8

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Dasar daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Arecaceae

Salacca magnifica mogea

Kalimantan

Semak

-

-

Meruncing

Melekuk

-

Berduri

E. SUKU MIMOSACEAE

Habitus pohon, semak atau herba. Daun kebayakan bipinnatus yang paripinnatus, jarang majemuk pinnatus, ada atau tidak ada stipula, daun tersebar pulvinus primer, sekunder dan tersier. Karangan Bunga ; bunga-bunga sering dalam kelompok erat, capitulus, spica atau racemes. Bunga biseksual, aktinomorf, calyx 4-6 sepalum, valvatus, bersatu kecil sekali atau tidak ada. Buah kebanyakan polong-polong (legumen), polong membuka atau tidak atau rontok peruas. Biji satu biji atau banyak biji.

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk Daun

Ujung Daun

Tepi Daun

Pertulangan

:

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Mimosaceae

Paracerianches fallacata

Maluku

Pohon

Utama

-

Oblongus

Melengkung

Rata

-

F. SUKU ARAUCARIACEAE

Habitus pohon, tinggi mencapai 40 meter atau lebih percabangan simetris dan berlingkar. Daun tersussun bersilang sering dalam dua baris,dimorphus (daun muda lebuh besar, ukuran dan susunanya berbeda dengan daun matang) tidak lulus samapi pohin membesar. Bunga berumah dua dan berumah satu, serbuk sari pada strobilus tumbuh diketiak daun atau di ujung batang,strobilus betina dengan sisik-sisik mengandung satu biji kerucut betina yersebut berkayu, ukuran besar,ukuran biji besar, sisik dapat lurus, biji berkeping dua, jarang empat, biji bersayap atau tanpa sayap.

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

1

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Tepi Daun

:

:

:

:

:

:

Araucariaceae

Araucaria cunninghamii

Papua

Pohon

Utama

Majemuk

2

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Tepi Daun

:

:

:

:

:

:

Araucariaceae

Araucaria cunninghamis

Papua

Pohon

Utama

Majemuk

3

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Araucariaceae

Araucaria lolumnaris

-

Pohon

Utama

-

Meruncing

Rata

Majemuk

-

4

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Araucariaceae

Araucaria cunsteinis

Papua

Pohon

-

-

-

-

-

-

G. SUKU LEGACEAE

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

1.

2.

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Tepi Daun

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Legaceae

Saraca indical

India

Pohon

Utama

Berkayu

Bangun langset

Rata

Legaceae

Dehoasia incrassata

-

Pohon

Utama

Berkayu

Bangun langset

Runcing

Rata

Menyirip

H. SUKU CELAST

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

:

:

:

:

:

:

:

:

Celast

Bhesa rolusta (roxb)

-

Pohon

Utama

Bangun langset

Meruncing

Rata

I. SUKU MELIASEAE

Tanaman berkayu, jarang herba, dengan kelenjar dammar atau kelenjar minyak. Daun tersebar, tersusun bentuk menyirip. Daun penumpu tidak ada. Bunga beraturan, kebanyakan berkelamin dua, berbilang 5 jarang 4-7, kelopak bersatu. Daun mahkota lepas, kadang-kadang bersatu. Benang sari sebanyak atau dua kalinya daun mahkota; tangkai sari kerapkali melekat menjadi tabung. Tonjolan penebalan dasar bunga kadang-kadang bentuk tabung. Bakal buah menumpang, jarang setengah tenggelam, beruang 1-5. tangkai putik satu. Bakal biji kerapkali 1-2 perruang. Buah bermacam-macam.

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Meliaceae

Dysoxylum parasiticum (osbeck)

-

Pohon

Utama

Memanjang

Meruncing

Rata

Menyirip

J. SUKU ICACEAE

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Icaceae

Gonocaryum littorale (blume)

-

Pohon

Utama

Berkayu

Jorong

Meruncing dan melengkung

Rata

Menyirip

K. SUKU ZAMIACEAE

Disebut juga Cycadaceae. Habitus semak tinggi seperti palma atau pohon. Batang berbentuk seperti tiang, berkayu, jarang bercabang, dan beberapa berumbi. Daun menyirip / pinnatus tunggal; anak daun kerapkali bertulang daun satu. Tersususn secara spiral, anak daun muda circinatus, daun yang jatuh menyisakan dasar daun. Bunga telanjang, berkelamin satu, berumah dua, terkumpul dalam kerucut. Kerucut jantan terdiri ats banyak benang sari, yang pada sisi bawah tertutup oleh banyak kantong butir sari. Kerucut betina terdiri atas banyak buah yang tebuka, yang sepanjang kedua tepinya mendukung 1-4 bakal biji besar.

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

1.

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Zamiaceae

Dionspirullosum

USA

Perdu

Serabut

-

Lanceolatus

Runcing

Bergerigi dan berduri

-

2.

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Zamiaceae

Encephalartos laurenlianus

-

Pohon

Serabut

-

Lanceolatus

Meruncing

Rata dan berduri

Sejajar

L. SUKU MYRTACEAE

Habitus Pohon atau perdu tegak. Daun berhadapan, berseling atau tersebar, tepi rata, dengan kelenjar minyak ( dapat dilihat dengan cahaya menerus). Daun penumpu tidak ada. Bunga beraturan, kerapkali berkelamin dua, berjumlah 4-5. daun pelindung kecil. Kelopak, berdaun lekat; tabung kerapkali di atas bakal buah diperpanjang; tepi kadang-kadang sebelum mekar rontok seperti tudung, taju 3-5. daun mahkota lepas atau melekat menjadi cawan, kadang-kadang rontok sebelum mekar. Benang sari umumnya banyak. Tonjolan dasar bunga berbentuk cincin atau cawan, menutupi tabung kelopak. Bakal buah tenggelam setengahnya, beruang satu sampai banyak. Tangkai putik satu. Buah huni, buah batu, buah kotak atau buah keras. Biji satu sampai banyak.

Jenis-jenis yang ditemukan di Kebun Raya Bogor, diantaranya adalah :

1.

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Myrtaceae

Syzygium palembanicum

-

Pohon

Utama

Berkayu

Jorong

Meruncing

Rata

Menyirip

2.

Suku

Nama spesies

Asal

Habitus

Akar

Batang

Bentuk daun

Ujung daun

Tepi Daun

Pertulangan daun

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Myrtaceae

Rhodomyrtus macrocarpa benth

-

Pohon

Utama

Berkayu

Jorong

Tumpul

Rata

Menyirip


Foto-foto Tumbuhan di Kebun Raya Bogor

Divisi : Pinophyta

Anak Divisi : Gymnospermae

Kelas : Coniferinae

Bangsa : Pinales

Suku : Pinaceae

Marga : Pinus

Spesies :

Pinus mercusii



Divisi : Pinophyta

Kelas : Cycadopsida

Anak Kelas : -

Bangsa : Cycadales

Suku : Cycadaceae

Marga : Cycas

Spesies :



Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Dicotyledoneae

Anak Kelas : Magnolidae

Bangsa : Nymphaeales

Suku : Nymphaeaceae

Marga : Victoria

Spesies :

Victoria amazonica



Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Anak Kelas : Zingiberidae

Bangsa : Zingiberales

Suku : Cannaceae

Marga : Canna

Spesies :

Canna hybrida



Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Anak Kelas : Arecidae

Bangsa : Pandanales

Suku : Pandanaceae

Marga : Pandanus

Spesies :

Pandanus tectorius



Divisi : Pinophyta

Kelas : Cycadopsida

Anak Kelas : -

Bangsa : Cycadales

Suku : Cycadaceae

Marga : Cycas

Spesies :



Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Anak Kelas : Arecidae

Bangsa : Arecales

Suku : Arecaceae

Marga : Roystonea

Spesies :

Roystonea regia



Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Anak Kelas : Zingiberidae

Bangsa : Zingiberales

Suku : Musaceae

Marga : -

Spesies : Revenala madagascariensis



Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Anak Kelas : Hammamelidae

Bangsa : Casuaricales

Suku : Casuarinaceae

Marga : Casuarina

Spesies : Casuarina equisetifolia









Daftar Pustaka

Pramadi, Ading. 2004. Keanekaragaman Tumbuhan Biji Sebagai Ayat Kauniah. Bandung : Universitas Islam Negeri Bandung

Steenis, Van. 1972. Kunci Deterninasi Tumbuhan. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada

Tjitrosoepomo, Gembong. 2002. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta : Gajah Mada University Press


Rangka Tubuh Manusia



SFINGOLIPID

Palmitoil KoA berkondensasi untuk membentuk dehidrofiganin, yang akan berubah menjadi sfingosin. Sfingosin merupakan tulang punggung / komponen utama dari spingolipid. Enzim yang mengkatalisis reaksi pembentukan sfingolipid memerlukan piridoksal fosfat, suatu kofaktor utama pada metabolisme asam amino.
Pada semua sfingolipid, gugus amino pada sfingosin mengalami asilasi ; suatu asil KoA rantai panjang bereaksi dengan sfingolipid membentuk seramida. Demikian juga gugus hidroksil ujung mengalami subtitusi. Untuk sfingomyelin siubtitusinya ialah fosforikolin, yang berasal dari fosfatidil kolin.
Seramida merupakan derivate sfingosin yang mengandung gugus asil dari asam lemak. Gugus ini terikat pada gugus amino dalam bentuk amida. Senyawa-senyawa yang termasuk kedalam kelompok seramida dibedakan berdasarkan asam lemak pada molekulnya. Pada hewan dan tumbuhan seramida hanya terdapat pada jaringan dalam jumlah kecil.
Sfingolipid yang lainnya adalah spingomyelin, spingomyelin adalah sfingolipid yang paling sederhana, paling banyak dijumpai, dan merupakan satu-satunya sfingolipid yang mempunyai fosfat. Karena senyawa ini memiliki fosfat, maka senyawa ini dapat juga digolongkan sebagai fosfolipid. Sfingomyelin terdapat dalam otak dan jaringan saraf sebagai bagian dari selubung myelin. Di otak juga terdapat sfingomyelin yang mengandung sfingosin dengan beberapa ikatan rangkap. Singolipid (spingomyelin) berperan sebagai kerangka penyusun membran sel serta banyak fungsi lain di dalam sel. Apabila masukan makanan berkurang seperti anak malnutrisi, kandungan spingomielin dalam otaknya akan menjadi rendah. Namun, keadaan ini dapat diatasi dengan memberikan diet yang mengandung spingomielin.
Kebutuhan tubuh akan spingomielin dipenuhi dari makanan yang dimakan sehari-hari serta dari hasil sintesis spingomielin dalam tubuh. Berbeda dengan spingolipid lainnya, spingomyelin hanya terdapat pada membran sel hewan, sedangkan sayur dan buah-buahan lebih banyak mengandung glikolipid.
Sekitar 0,1-1,0 persen dari total lemak susu sapi mengandung fosfolipid dan 30 persen di antaranya terdiri dari spingomielin. Kandungan spingomielin dalam susu sapi ini tidak menetap tergantung kepada musim dan masa laktasi dari sapi tersebut. Kandungan spingomielin dalam ASI juga bervariasi. Selain spingomielin, ASI juga mengandung fosfolipid, yang merupakan sumber fosforilkolin dalam sintesis spingomielin.
Disamping kelompok seramida dan sfingomyelin ada golongan sfingolipid yang mengandung karbohidrat. Kelompok ini dinamakan glikolipid. Contohnya adalah serebrosida.
Serebrosida berbeda dengan sfingomyelin dalam hal mengandung fasfat, serebrosida juga tidak memiliki muatanm listrik karena gugus kepalanya bersifat netral, serebrosida kebanyakan terdapat dalam jaringan saraf. Dengan hidrolisis serebrosida akan menghasilkan molekul sfingosin, asam lemak, dan heksosa. Kebanyakan galaktosa dan kadang-kadang glukosa.
Gangliosida adalah sfingolipid yang paling kompleks, satu rantai olisakarida dengan paling sedikit satu gula yang bersifat asam yang terikat pada seramida. Gula yang bersifat asam ialah N-asetilneuraminat atau N-glikolilneuraminat. Gula-gula yang bersifat asam ini disebut asam asilat.
Konsentrasi gangliosida paling tinggi ditemukan pada system saraf, terutama pada substansi grisea. Jumlahnya 60% dari jumlah lipid yang ditemukan di substansi grisea. Pemecahan gangliosida di dalam lisosom adalah dengan pengeluaran secara berurutan gula-gula terminalnya.
Gangguan pada pemecahan gangliosida ini dapat menyebabkan akibat klinis yang serius; dapat menyebabkan penyakit Tay-sachs. Kandungan gangliosida dalam jaringan otak bayi penderita penyakit Tay-sachs sangat meningkat. Kadar gangliosida GM2 bebrapa kali lebih tinggi daripada normal, disebabkan karena pengeluaran residu N-asetilgalaktosmin ujung terjadinya sangat lambat bahkan tidak berlangsung. Enzim yang tidak ada atau mengalami defisiensi pada penyakit ini adalah enzim β-N-asetilheksosaminidase yang spesifik. Penyakit Tay-sachs ini merupakan pennyakit menurun dan bersifat resesif otosomal.

KALSIUM (Ca)

Kalsium dari bahasa Latin; calcium adalah unsur dasar kapur dan memiliki simbol; Ca. Kalsium adalah mineral yang amat penting bagi manusia, antara lain bagi metabolisme tubuh, penghubung antar syaraf, kerja jantung, pergerakan otot, dll
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat dalam tubuh, yaitu 1,5 – 2% dari berat tubuh orang dewasa atau kerang lebih sekitar 1 kg. dari jumlah ini, 99% berada dalam jaringan keras, yaitu dalam tulang dan gigi terutama dalam bentuk hidroksiapatit [(3Ca3(PO4)2.Ca(OH)2)]. Kalsium tulang berada dalam keadaan seimbang dengan klasium plasma pada konsentarsi kurang lebih 2,25 – 2,60 mmol /l (9 -10,4 mg / 100 ml). Densitas secara berangsur setelah dewasa. Selebihnya kalsium tersebar luas dalam tubuh. Didalam cairan ektraseluler dan intraseluler kalsium memegang peranan yang penting dalam mengatur fungsi sel, seperti untuk trnsmisi saraf, kontraksi otot, penggumpalan darah dan menjaga permiabilitas membaran sel. Kalsium mengatur pekerjaan hormon-hormon dan factor pertumbuhan.
Dalam keadaan normal kalsium yang dikonsumsi dan diabsorpsi tubuh sebanyak 30 – 50%. Kemampuan absorpsi sangat tinggi pada masa pertumbuhan dan menurun pada proses penuaan. Bila dibandingkan kemampuan absorpsi antara laki-laki dan perempuan, laki-laki kemampuan absorpinya lebih tinggi. Absorpsi kalsium terjadi lebih banyak pada bagian tas usus halus, yaitu pada duodenum. Kalsium membutuhkan pH 6 agar dapat berada dalam keadaan terlarut. Absorpsi aktif kalsium dilakuakn dengan alat angkut protein-pengikat kalsium, sedangkan absorpsi secara pasif terjadi pada permukaan saluran pencernaan.
Banyak factor yang memepengaruhi absorpsi kalsium. Kalsium hanya bisa diabsorpsi apabila terdapat dalam larutan atau dalam bentuk cair dan tidak mengendap karena unsure makanan lain, seperti oksalat. Kalsium yang tidak diabsorpsi dikelurakan melalaui feses. Kandungan kalsium pada urin memcerminkan jumlah kalsium yang diabsopasi. Kehilangan kalsium melalui urin meningkat pada asidosis dan pada konsumsi forfor tinggi. Kehilangan kalsium juga terjadi melalui sekresi cairan yang masuk ke dalam saluran cerna, dan melalui keringat.
Semakin tinggi kebutuhan dan semakin rendah persediaan kalsium dalam tubuh semakin efesien absorpsi kalsium. Peningkatan kebutuhan kalsium terjadi pada masa pertumbuhan, kehamilan, menyusui, defisiensi kalsium, dan tingkat aktivitas fisik yang meningkatkan densitas tulang. Jumlah kalsium yang dikonsumsi mempengaruhi absorpsi kalsium. Penyerapan akan meningkat bila kalsium yang di konsumsi menurun.
Vitamin D dalam bentuk aktif 1,25 (OH)D3 merangsang absorpsi kalsium melalui langkah-langkah kompleks. Vitamin D meningkatkan absorpsi kalsium pada mukosa usus dengan cara merangsang produksi protein-pengikat kalsium. Absorpsi kalsium paling baik terjadi dalam keadaan asam. Asam klorida yang dikeluarkan lambung membantu absorpsi dengan cara menurunkan pH di bagian atas duodenum. Asam amino tertentu meningkatkan pH saluran pencernaan, dengan demikian membantu absorpsi.
Aktivitas fisik berpengaruh baik terhadap absorpsi kalsium. Laktosa meningkatkan absorpsi bila tersedia cukup enzim lactase. Sebaliknya, bila terdapat defisiensi lactase, laktosa mencegah absopsi kalsium. Lemak meningkatkan waktu transit makanan melalui saluran pencernaan, dengan demikian memberi waktu lebih banyak untuk absorpsi kalsium. absorpsi kalsium lebih baik bila dikonsumsi bersamaan dengan makanan.
Kekurangan vitamin D dalam bentuk aktif menghambat absorpsi kalsium. Asam oksalat yang terdapat dalam banyam, sayuran lain dan kakao membentuk garam kalsium oksalat yang tidak larut, sehingga menghambat absorpsi kalsium. Asam fitat, ikatan yang mengandung fosfor yang terutama terdapat di dalam sekam serealia, membentuk kalsium fosfat yang juga tidak dapat larut sehingga tidak dapat diabsorpsi.
Serat menurunkan absorpsi kalsium, diduga karena serat menurunkan waktu transit makanan di dalam saluran pencernaan sehingga mengurangi kesempatan untuk absorpsi. Stress mental atau fisik cenderung menurunkan absorpsi dan meningkatkan ekskresi.
Kalsium erat kaitannya dengan kesehatan tulang sebab mineral inilah yang membentuk tulang. Selain itu, peranannya terhadap gigi juga tak bisa diabaikan. Sembilan puluh sembilan persen kalsium dalam tubuh disimpan dalam tulang dan gigi. Sisanya tersebar di darah dan jaringan lunak, yang memiliki peran sangat penting. Tanpa adanya kalsium, otot tidak dapat berkontraksi dengan benar, darah tidak bisa membeku, dan saraf tidak dapat membawa pesan.
Penelitian terkini yang dilakukan oleh beberapa lembaga menyimpulkan bahwa manfaat kalsium jauh melebihi yang diperkirakan orang. Hector De Luca, pakar biokimia Universitas Wisconsin, AS, sudah mewanti-wanti untuk tidak kaget dengan peranan kalsium yang begitu banyak.
Salah satu peran penting kalsium adalah dalam meringankan sindrom pramenstruasi (PMS). Kesimpulan ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh dr. Susan Thys-Jacobs, pakar kelenjar endokrin dari St. Luke’s-Roosevelt Hospital Center di New York, bersama rekan-rekannya dari 11 pusat medis di AS, terhadap 500 orang wanita penderita PMS. Secara acak, sebagian dari 500 wanita itu diberi 1.200 mg kalsium per hari. Ternyata, pada siklus haid ketiga, gejala PMS bisa dikurangi 48% pada wanita yang menelan kalsium. Tetapi, kalsium akan bekerja efektif setelah kulit terkena sengatan singkat radiasi ultraviolet-B. Paparan sinar matahari memang merangsang produksi vitamin D. Vitamin ini diketahui berfungsi sebagai pembuka kalsium untuk masuk ke dalam aliran darah, sampai akhirnya menyatu di dalam tulang.
Menghindari sinar matahari karena takut hitam ini disinyalir menjadi penyebab kasus osteoporosis di Indonesia tergolong tinggi. Padahal Indonesia merupakan wilayah tropis. Ketakutan ini ditambah dengan pola hidup karyawan di perkotaan yang kurang mendapat sinar matahari. “Berangkat kerja ketika matahari belum naik, seharian berada di dalam kantor, dan pulang ke rumah setelah gelap,” kata dr. Ichramsjah A. Rahman, D.S.O.G. Padahal, sengatan yang dibutuhkan tak terlalu lama. Umumnya, sekitar 15 menit sinar matahari langsung sudah cukup untuk kebutuhan sehari.
Keperkasaan kalsium juga teruji dari kesimpulan penelitian yang tertuang dalam New England Journal of Medicine, 1993. Disimpulkan bahwa asupan kalsium tinggi (di atas 850 mg) bisa mengurangi risiko gejala batu ginjal. Hal ini karena kalsium memiliki efek protektif dengan mengikat oksalat di usus dan mencegah penyerapan oksalat yang bisa membentuk batu.
Kalsium juga berpengaruh terhadap masa depan kesehatan bayi. British Medical Journal melaporkan hasil penelitian pada wanita yang diberi suplemen kalsium selama masa kehamilan. Hasilnya, para ibu tersebut akan memiliki anak-anak yang cukup terlindungi dari risiko hipertensi.
Sepanjang hidup kita membutuhkan kalsium. Mulai dari bayi sampai usia tua dengan jumlah kebutuhan yang berbeda-beda. Demikian juga dengan jenis kelamin membedakan asupan. Menurut Siti Fatimah Moeis, M.Sc., dokter dan ahli gizi lulusan University of London, angka kecukupan kalsium rata-rata yang dianjurkan di Indonesia adalah 500 – 800 mg per orang per hari. Pada usia lanjut dan wanita menopause para ahli cenderung menganjurkan asupan sampai sekitar 1.000 mg/hari. Susu memang memiliki kandungan kalsium yang cukup banyak. Susu kambing 98 mg/100 g, susu kerbau 216 mg/g, susu bubuk full cream 895 mg/gr, susu bubuk skim 1.300 mg/gr, dan keju 777 mg/g.
Cara yang paling baik memenuhi kebutuhan kalsium bukan dari suplemen, melainkan dari makanan sehari-hari. Kalsium bisa diperoleh dari sayuran hijau (bayam misalnya), buah-buahan, brokoli, serta tempe dan tahu. Juga makanan laut. Kandungan kalsium dalam bahan makanan kacang-kacangan dan ikan cukup besar. Antara lain, 100 g kacang kedelai basah memiliki 196 mg kalsium, 100 g kacang kedelai kering mengandung 227 mg kalsium, bahkan dalam 100 g sari kedelai bubuk terdapat 450 mg kalsium (tetapi dalam 100 g sari kedelai cair hanya terdapat 50 mg). Angka yang lebih besar diperoleh dari bungkil kacang tanah (730 mg). Sedangkan tempe kedelai murni 129 mg dan tahu 124 mg.
Tempe mengandung sekitar 130 mg dan tahu 125 mg kalsium per 100 gram. Kacang tanah mengandung lebih banyak kalsium, sekitar 500 mg/100 gram. Makanan laut juga kaya akan kalsium. Udang dan teri, baik yang masih segar maupun yang sudah dikeringkan banyak mengandung kalsium. Ikan sardines dan ikan pepes duri lunak yang dimakan dengan tulangnya merupakan sumber kalsium yang kaya.
Dari jenis sayuran hijau bisa dipilah: daun lamtoro 1.500 mg, brokoli (200 mg/100 gram), daun kelor 440 mg, bayam merah 368 mg, bayam hijau 267 mg, daun talas 302 mg, dan daun mlinjo 219 mg. Untuk makanan laut bisa dipilih rebon kering (udang kecil) yang sarat kalsium, yakni 2.306 mg/100 g; rebon segar 757 mg; udang kering 1.209 mg kalsium; udang segar 136 mg kalsium; teri kering 1.200 mg; teri segar 500 mg.
Berikut beberapa manfaat kalsium bagi manusia:
• Mengaktifkan saraf
• Melancarkan peredaran darah
• Melenturkan otot
• Menormalkan tekanan darah
• Menyeimbangkan keasaman/kebasaan darah
• Menjaga keseimbangan cairan tubuh
• Mencegah Osteoporosis (keropos tulang)
• Mencegah penyakit jantung
• Menurunkan resiko kanker usus
• Mengatasi kram, sakit pinggang, wasir, dan reumatik
• Mengatasi keluhan saat haid dan menopause
• Meminimalkan penyusutan tulang selama hamil dan menyusui
• Membantu mineralisasi gigi dan mencegah pendarahan akar gigi
• Mengatasi Kaki tangan kering dan pecah-pecah
• Memulihkan gairah seks yang menurun/melemah
• Mengatasi kencing manis (mengaktifkan pankreas)
Setelah umur 20 tahun, tubuh manusia akan mulai mengalami kekurangan kalsium sebanyak 1% per tahun. Dan setelah umur 50 tahun, jumlah kandungan kalsium dalam tubuh akan menyusut sebanyak 30%. Kehilangan akan mencapai 50% ketika mencapai umur 70 tahun dan seterusnya mengalami masalah kekurangan kalsium.
Gejala awal kekurangan kalsium adalah seperti lesu, banyak keringat, gelisah, sesak napas, berkurang daya tahan tubuh, kurang nafsu makan, sembelit, berak-berak, insomnia, kram, dan sebagainya.
Sebaliknya kelebihan kalsium juga dapat berakibat tidak baik. Kelebihan konsumsi kalsium sampai dua kali lipat kebutuhan masih dapat dibuang oleh tubuh, jika tubuh dalam keadaan sehat. Namun jika Anda mempunyai kecenderungan gangguan kesehatan tertentu, atau kelebihan konsumsi kalsium terlalu banyak, maka Anda justru akan mendapat "penyakit". Overdosis kalsium dalam waktu lama akan mendorong terbentuknya batu ginjal dan juga merupakan faktor risiko terjadinya kerusakan ginjal.

Cacing

Dalam kehidupan sehari-hari cacing dikenal sebagai hewan yang bertubuh kecil, panjang, dan tidak mempunyai kaki. Tetapi, pemahaman seperti ini masih belum spesipik atau masih bersifat umum. Ciri-ciri umum yang dimiliki cacing diantaranya bertubuh memanjang, simetri bilateral, dengan struktur tubuh primitive. Tidak ada yang bersifat metameri, banyak diantaranya bersifat parasit.
Setelah dipelajari secara lebih mendalam, dengan memperhatikan ciri-ciri yang miliki, persamaan dan perbedaan yang dimiliki cacing, maka cacing dapat di kelompokan menjadi tiga filum, yaitu : Platyhelminthes, Nemathelminthes, dan Annelida.
Platyhelminthes
Platyhelminthes berasal dari dua kata, yaitu : platy = pipih dan heminth = cacing. Platyhelmintes disebut juga cacing daun dan umumnya bertubuh pipih. Platyhelminthes bersifat tripoblastik atau tersusun dari tiga lapisan tubuh yaitu ectoderm, mesoderm, dan ectoderm.
Walaupun platyhelminthes bersimertri bilateral, namun platyhelminthes mempunyai sistim ekskretorius, saraf, dan refroduksi yang mantap. Sistim sarafnya membentuk sistim tangan tali, dengan sebasang kumpulan badan sel saraf (ganglian) didaerah anterior dan simpulnya membentang ke posterior.
Platyhelminthes ini bersifat hemafrodit. Sebagian anggotanya ada yang parasit pada hewan dan manusia, dan sebagian ada yang hidup sebagai cacing planarian dan cacing nemertian. Cacing planarian hidup di air tawar, sedangkan cacing nemertian hidup di laut dan terkenal dengan nama cacing ikat pinggang.
Platihelminthes dibagi menjadi tiga kelas, yaitu :
1. Turbellaria (Cacing Berambut Getar)
Cacing yang termasuk turbellaria memiliki epidermis yang bersilia, mulutnya terletak di ventral, dan tidak bersegmen. Cacing turbellaria hidup dalam air laut, tawar, dan daratan yang basah, kelompok cacingini jarang yang bersifat parasitis. Contoh : Planaria sp (Dugesia sp), Planosera sp, dan Convotura sp.
2. Trematoda (Cacing Isap)
Semua anggota trematoda hidup sebagai parasit, terutama pada vertebrata. Tubuhnya tidak bersilia, tetapi dilapisi katikula. Tubuhnya seperti daun dengan dua alat penghisap, yaitu batil isap mulut dan batil isap perut. Sebagian cacing yang termasuk anggota trematoda hidupnya sebagai ektoparasit (pada ikan), dan sebagian hidup sebagai endoparasit pda jaringan tubuh vertebrata. Contoh : Fasciola hepatica (parasit pada domba), Fasciola gigantika (parasit pada sapi), dan Clonorhis sinensis (parasit pada manusia).
Seperti yang kita ketahui bahwa platihelminthes bersifat hemaprodit maka cacing ini juga bersifat hemaprodit. Contoh, Fasciola hepatica dewasa bertelur dalam dalam kantong empedu dan saluran empedu domba, kemudian keluar bersama tinja. Dalam air mirasidium menetas, lalu memasuki tubuh inang perantara dalam hal ini yaitu siput air tawar (Lymnaea auricalis rubiginosa), dalam tubuh siput miridium berubah menjadi sporokista. Dengan cara paedogenesis, dalam tubuh sporokista terbentuk redia, redia dengan cara paedogenesis pula membentuk serkaria yang berekor. Serkaria berekor keluar dari redia, berenang, dan menempel pada tumbuhan air dan menjadi kista, kemudian kista itu termakan domba bersama tumbuhan air.
3. Cestroda (Cacing Pita)
Semua anggota cestroda (cacing pita) hidupnya bersifat endoparasit pada saluran pencernaan (usus) vertebrata. Tubuhnya tidak mempunyai epidermis, tetapi ditutupi dengan katikula, tidak ada trankus digentivus, dan tidak mempunyai mulut. Tubuhnya terdiri dari segmen-segmen (proglotida) dan kepala (skoleks). Pada skoleks terdapat alat penghisap. Beberapa segmen gravida sering lepas dari stobila, peristiwa ini disebut apolitis. Cestropoda bersifat hemprodit. Contoh : Phyllobothrium sp (parasit pada Elasmobrabnci) dan Protochephalus sp (parasit pada ikan air tawar, ampibi, dan reptilia)
Daur hidup Taenia sp : Apabila proglotid yang telah mempunyai telur yang telah matang, maka akan terlepas dari Taenia sp dan akan keluar bersam tinja manusia, apabila proglotid termakan sapi atau babi maka akan masuk ke dalam usus, selanjutnya diding proglotid pecah dan embrio cacing akan keluar dan berkembang menjadi Heksakant. Heksakant akan menembus diding usus, kemudian tinggal dalam otot dan berkembang menjadi sistisercus. Sistisercus termakan manusia pada daging sapi atau babi. Maka berulanglah daur hidupnya.
Peranan plathyhelminthes bagi manusia baik secara ekonomi ataupun kesehatan tidak ada yang menguntungkan, bahkan merugikan. Seperti yang telah di uraikan diatas.
Nemathelminthes
Nemathelminthes berasal dari dua kata yaitu nema = benang dan helminth = cacing. Anggota filum ini pada umumnya bertubuh giling atau berbentuk benang. Anggota filum cacing ini diantaranya ada prasit pada tanah dan merusak akar tanaman, parasit pada saluran pencernaan makanan vertebrata atau pada organ-organ yang lainya.
Tubuh nemthelminthes ditutupi dengan katikula dan tidak bersilia, simetris bilateral, pada umumnya silindris / bulat panjang, tidak ada segmen, tidak hemaprodit (tiap individu memiliki satu alat kelamin), terdapt mulut dan anus, dan tripablastik.
Nemathelminthes dibagi kedalam dua kelas, yaitu :
1. Nematoda
Pada nematoda telah ditemukan otot disebelah luar selom, tetapi bukan berbentuk sel epitel. Nematoda sama sekali tidak mempunyai silia, telah mempunyai usus dan saluran pencernaan, tetapi tidak mempuyai organ pernapasan dan peredaran darah. Sistim sarafnya terdiri dari cincin anterior yang mengelilingi esophagus, batang saraf dorsal dan ventral, dan saraf-saraf kecil. Kebanyakan nematoda diesius, yaitu ada jantan dan betina. Sistim refroduksi jantng terdiri atas testis, vas deferens, vasikula seminalis, duktus ejakulatorius, dan spikula yang berpungsi sebagai penis. Sedangkan pada betina terdiri tas ovarium, oviduk, dan uterus. Dua uterus bersatu dibagian vagina dan terbuka sebagai vulva. Contoh : Ancylostoma caninum (pada anjing) dan Askaris lumbricoides (pada manusia)
2. Achanthocephala
Cacing ini disebut juga cacingberkepala duri, karena pada ujung anterior cacing ini terdapat probosis yang berkait (duri), cacing ini juga bertubuh giling. Semu anggota kelas ini parasit pada usus vertebrata, dan menggunakan insekta sebagai inang sementara. Pada cacing initerdapat pseudosoelum dan sistim ekresi, tidak mempunyai organ pencernaan, perdaran darah dan pernapasan. Cacing ini diesius.
Contoh : Neoechinorhynchus emydis (parasit pada penyu, insekta, dan crustesea) dan Macracanthorhyncuhus sp (parasit pada babi).
Peranan nemathelminthes bagi kehidupan manusia secara ekonomi tidak ada yang menguntungkan bahkan merugikan. Nemathelminthes ada yang parasit pada manusia, tanaman, dan hewan.
Annelida
Anelida berasal dari kata annulus = cincin. Annelida adalah cacing yang paling tinggi tingkatanya dibandingkan dengan filum-filum cacing yang lain. Yang membedakan annelida dengan filum cacing lain yaitu rongga tubuhnya, segmentasi yang berupa metemeri, sistim saraf dan bagian tubuh lainya.
Tubuh annelida simetri bilateral, tripoblastik, pada bagian anterior terdapat ruas pra oral, terdapt rongga tubuh, tubuhnya dilapisi katikula, terdapat sekat chitin pada rongga tubuhnya, sistim sarafnya tangga tali dan hermaprodit.
Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu :
1. Pholychaeta
Cacing pholychaeta tubuhnya memiliki banyak rambut / chaeta, gonochorist gonadnya tidak sempurna, dan fertilisasi ekternalnya dengan trachophor. Cacing ini juga bisaberkembang biak dengan vegetatif, yaitu dengan membentuk kuncup atau tunas. Panjang tubuhnya 5-10 cm tetapi beberapa jenis ada yang berukuran 1 cm. Cacing ini segmentasinya sangat baik tiap segmen memiliki parapodia (semacam kaki yang berdaging) dibagian lateral tubuhnya, rahang, dan mulut. Selain itu juga pholycheta pada anteriornya memiliki mata, tentakel mulut, dan rahang. Ototnya memanjang dan melingkar, sehingga pergerakannya dengan meliuk-liuk. Contoh : Lysidice sp (cacing Wawo), Eunice viridis (cacing Pololo), dan Sabella pavonia (cacing Kipas).
2. Olygochaeta
Anggota kelas cacing ini memiliki segmen tubuh bagian luar dan dalam yang menyatu, tidak mempunyai kepala dan parapodia, pada beberapa jenis ada yang memiliki insang, cacing ini hermaphrodit dengan gonad yang sedikit, dan memiliki citellum (kulit yang menebal). Cacing ini menggunakan citellum sebagai penghasil coccom yang digunakan untuk membungkus telur. Habitat cacing ini pada umumnya hidup di air tawar atau tanah. Contoh : Tubifex sp, Enchytraeus sp, dan Perichaeta musica.
3. Hirudine
Hirudine atau lintah tubuhnya memiliki pigmen, tubuhnya apabila dalam keadaan kosong berbentuk pipih, tiap ujung dari tubuhnya memiliki alat penghisap, tidak memiliki paradopora atau tentakel, bersifat hermaphrodit, segmen-segmen tubuhnya terlihat jelas pada umumnya memiliki 34 segmen, dan yang menjadi cirri khas dari kelas ini yaitu memiliki zat pembeku darah (anti koagulasi) sehingga darah darah yang dimakan tidak akan membeku.
Peranan annelida dalam kehidupan manusia, berbeda dengan kelas-kelas sebelum annelida yang pada umumnya tidak ada yabng menguntungkan, tetapi annelida tidak banyak merugikan bahkan ada yang menguntukan. Cacing Wawo (Lysidice sp) dan cacing Palolo (Euniceu viridis) merupakan sumber protein hewani. Bahkan di Filifina cacibnhg dibnrudi datyakabn rubntyruk dijadikan sumber pangan. Selain itu juga cacing bisa mempercepat mineralisasi dan secara tidak langsung menghasilkan humus (pupuk) penyubur tanah

Penerapan Metode Spektrum Atom Dalam Kehidupan

Kita sering mendengar bahwa penyusun yang utama dari matahari adalah hydrogen dan helium, bintang digalaksi inipun tidak jauh berbeda. Atau komposisi minuman atau obat tertentu seperti kalsium sekian persen, magnesium sekian persen, dan yang lainya. Kandungan unsure-unsur itu dapat kita cari dengan beberapa metode, salah satunya adalah metode spectrum atom.
Sinar matahari merupakan sinar yang tersusun dari komponen warna-warna yang dapat dikombinasikan menjadi warna putih kembali, seperti yang telah dikemukakan oleh Isaac Newton pada permulaan abad ke-17 M. Beberapa tahun kemudian, 1860, Robert Bunsen (yang dikenal karena pembakar bunsen temuannya) menyelidiki emisi cahaya dari nyala gas. Bunsen mengamati spektra emisi yang dihasilkan bukan kontinu, namun berupa garis-garis berwarna (spektrum garis). Dia mencatat bahwa setiap unsur menghasilkan spektrum yang unik dan karakteristik.
Suatu unsur dapat menghasilkan spectrum yang berbentuk garis atau yang berbentuk pita kontinu. Spektrum emisi suatu bahan dapat diperoleh bila unsure itu diberi energi, baik energi termal maupun energi dalam bentuk lain, misalnya, energi listrik, yaitu dengan memberikan potensial yang tinggi pada gas. Potongan besi yang telah dipanaskan memancarkan cahaya yang khas. Pijaran yang terlihat itu merupakan bagian dari spektrum emisi yang ditangkap oleh mata, tetapi sebenarnya ada pula bagian spektrum yang tidak dapat ditangkap oleh mata kita.
Cahaya matahari merupakan bentuk energi yang dikenal sebagai energi elektromagnetik, atau disebut juga radiasi. Energi elektromagnetik ini bergerak bergelombang dan berirama. Irama yang diciptakanya diserupakan (analog) dengan gelombang berirama yang diciptakan oleh air yang dijatuhkan kedalamnya sebuah kerikil.
Panjang gelombang dari sinar matahari berkisar antara kurang dari satu nanometer (untuk sinar gamma) hingga lebih dari satu kilometer (untuk gelombang radio). Keseluruhan kisaran radiasi ini dikenal sebagai spectrum elektromagnetik.
Radiasi yang dapat dideteksi oleh mata manusia hanyalah berkisar kira-kira antara 380 hingga 750 nm. Radiasi ini dikenal dengan cahaya tampak, radiasi ini terdeteksi olah mata manusia berupa macam-macam warna.
Apabila cahaya mengenai sebuah materi, cahaya itu dapat dipantulkan, diteruskan (transmisi), atau diserap (diabsorpsi). Bahan-bahan yang menyerap cahaya tampak disebut pigmen. Pigmen yang berbeda akan menyerap cahaya yang panjang gelombangnya berbeda, dan panjang gelombang yang diserap akan hilang.
Jika suatu pigmen diterangi dengan cahaya putih, warna yang kita lihat adalah warna yang paling dipantulkan atau diteruskan oleh suatu pigmen. Apabila pigmen itu menyerap seluruh panjang gelombang, maka pigmen itu akan tampak hitam. Kita melihat warna hijau saat melihat daun karena klorofil menyerap cahaya biru dan merah dan mementulkan cahaya hijau. Kemampuan pigmen untuk menyerap berbagai panjang gelombang cahaya dapat diukur dengan menempatkan larutan pigmen itu dalam spectrofotometer
Spectrometer merupakan salahsatu peralatan yang paling banyak digunakan dalam bidang biologi. Spectrometer mengukur jumlah relatif cahaya panjang gelombang yang berbeda yang diserap dan diteruskan oleh larutan pigmen. Didalam spectrometer, cahaya putih dipisahkan menjadi sejumlah warna (panjang gelombang) oleh prisma. Kemudian satu demi satu cahaya itu dilewatkan melalui sample. Cahaya yang diteruskan menabrak tabung fotolistrik, yang mengubah energi cahaya menjadi energi listrik, dan arus listriknya diukur dengan satuan ukur. Setiap kali panjang gelombang cahaya berubah, alat ukur akan mengidentifikasi faraksi cahaya yang diteruskan melaui sampelnya atau sebaliknya, frkasi cahaya yang diserap.
Garfik yang menyajikan propil penyerapan (absorpsi) pada panjang gelombang yang berbeda disebut spectrum absorpsi. Misalnya, spectrum absorpsi untuk kloropil a, bentuk klorofil yang paling penting dalam fotosintesis, memiliki du puncak, yang terkait dengan cahaya biru dan merah. Ini merupakan warna yang diserap paling baik oleh klorofil a. spectrum absorpsi memiliki lembah dalam daerah hijau karena pigmen meneruskan cahaya dari yang berwarna ini.
Walaupun matahari meradiasi spectrum penuh dari cahaya energi elektromagnetik, atmosfer bertindak sebagai jendela selektif, yang membiarkan cahaya tampak lewat dan menyaring sebagian besar fraksi radiasi lainya. Bagian spectrum yang dapat kita lihat (cahaya tampak) merupakan radiasi yang dapat bermanfaat bagi proses fotosintesis. Warna biru dan merah merupakan panjang gelombang yang paling efektif diserap oleh klorofil dan merupakan warna yang paling bermanfaat dalam reaksi terang, yaitu sebagai energi.
Persamaan untuk fotosintesis seolah-olah merupakan rangkuman sederhana dari suatu proses yang rumit. Sebenarnya, fotosintesis bukanlah merupakanm proses tunggal tetapi dua proses, yang masing-masing terdiri dari banyak langkah. Kedua tahap fotosintesis ini dikenal dengan reaksi terang dan siklus calvin.
Reaksi terang merupakan langkah-langkah fotositesis yang mengubah energi matahari menjadi energi kimiawi. Cahaya yang diserap oleh klorofil menggerakkan transfer electron dan hydrogen dari air ke penerima yang di sebut NADP+ yang menyimpan electron yang berenergi inio untuk sementara. Air terurai dalam proses ini sehingga reaksi terang fotosintesislah yang melepas O2 sebagai produk-samping.

Menggembalikan Kesuburan Tanah

Pada saat ini banyak macam usaha pengelolaan tanah masam yang dapat di-temukan di berbagai tempat, di mana masing-masing cara berkembang sesuai dengan kemampuan dan kondisi setempat. Upaya-upaya pengelolaan tanah ditujukan untuk menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan keberlanjutan suatu sistem usahatani, yaitu mempertahankan produksi tanaman dari waktu kewaktu, mengontrol erosi dan mengatasi serangan hama, penyakit dan gulma
Pada prinsipnya ada tiga kelompok cara penanganan masalah tanah masam yang berhubungan dengan pengelolaan kesuburan tanah, yaitu cara kimia, cara fisik-mekanik dan cara biologi. ketiga cara tersebut seringkali diterapkan secara bersama-sama.

1. Cara kimia
Cara kimia merupakan salah satu upaya pemecahan masalah kesuburan tanah dengan menggunakan bahan-bahan kimia buatan. Beberapa upaya yang sudah dikenal adalah pengapuran, pemupukan, dan penyemprotan herbisida.
A. Pengapuran
Pengapuran merupakan upaya pemberian bahan kapur ke dalam tanah masam dengan tujuan untuk menaikkan pH tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), dan menetralisir Al yang meracuni tanaman. Pemberian kapur seperti ini memerlukan pertimbangan yang seksama mengingat pemberian Ca dan Mg akan mengganggu keseimbangan unsur hara yang lain.

B. Pemupukan dengan penambahan unsur hara
Pemupukan merupakan jalan termudah dan tercepat dalam menangani masalah kahat hara, namun bila kurang memperhatikan kaidah-kaidah pemupukan, pupuk yang diberikan juga akan hilang percuma.
Pada saat ini sudah diketahui secara luas bahwa tanah-tanah pertanian di Indonesia terutama tanah masam kahat unsur nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Oleh karena itu petani biasanya memberikan pupuk N, P, K secara sendiri-sendiri atau kombinasi dari ketiganya. Pupuk N mudah teroksidasi, sehingga cepat menguap atau tercuci sebelum tanaman menyerap seluruhnya. Pupuk P diperlukan dalam jumlah banyak karena selain untuk memenuhi kebutuhan tanaman juga untuk menutup kompleks pertukaran mineral tanah agar selalu dapat tersedia dalam larutan tanah.
Beberapa kelemahan dari pengelolaan tanah secara kimia adalah Pemupukan membutuhkan biaya tinggi karena harga pupuk mahal, Penggunaan pupuk tidak dapat menyelesaikan masalah kerusakan fisik dan biologi tanah, bahkan cenderung mengasamkan tanah, dan Pemupukan yang tidak tepat dan berlebihan menyebabkan pencemaran lingkungan.

2. Cara fisik – mekanik
Penanganan secara fisik dan mekanik terutama ditujukan untuk perbaikan media pertumbuhan perakaran, penanggulangan gulma dan usaha penekanan erosi. Hambatan kedalaman perakaran yang disebabkan oleh adanya lapisan keras dari kerikil (krokos = laterit) mungkin dapat diatasi dengan pembongkaran secara mekanik dengan mengolah tanah dalam (deep plowing) misalnya denganmenggunakan gancu untuk menghancurkan bongkahan laterit tersebut.
Perbaikan media tumbuh tanaman melalui pengolahan tanah dapat memperbaiki pertumbuhan akar tanaman sehingga dapat mengurangi jumlah unsur hara yang hilang karena pencucian.
Pengolahan tanah dapat membantu menggemburkan tanah sehingga memperbaiki perkembangan akar tanaman dan mempercepat proses dekomposisi bahan organik tanah dan mineralisasi hara sehingga memperbaiki pertumbuhan tanaman untuk beberapa tahun.
Pengelolaan dengan cara fisik-mekanik ini juga memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan, di antaranya adalah Pengelolaan secara fisik-mekanik biasanya memerlukan tenaga dalam jumlah banyak dan waktu yang lama, tidak dapat mengatasi masalah kekurangan bahan organik tanah karena jumlah biomas yang diangkut keluar petak lahan melalui panen sangat banyak sementara jumlah yang dikembalikan sangat sedikit.

3. Cara biologi
Prinsip-prinsip pengelolaan kesuburan tanah secara biologi dikembangkan dari hasil pengalaman yang diperoleh dari sistem hutan alami di mana vegetasi dapat tumbuh subur tanpa tambahan unsur hara dari luar. Hal ini membuktikan bahwa pepohonan berperan penting dalam pemeliharaan kesuburan tanah.
Sistem hutan alam memiliki siklus hara yang tertutup, di mana hara yang dipergunakan untuk pertumbuhan pohon diambil dari tanah dan pohon juga akan mengembalikan sebagian hara tersebut ke dalam tanah melalui daun, ranting dan cabang yang gugur. Kenyataan yang terpenting pada kondisi hutan ini adalah bahwa jumlah kehilangan hara melalui pencucian, erosi atau aliran permukaan sangat kecil. Oleh karena itu konsep pengelolaan tanah secara biologi adalah meniru sistem tertutup yang dijumpai di hutan.